Kami ingin bercerita, tentang sebuah sekolah dimana anak-anak kami di didik dan di bina. Ini bukan sekolah biasa, sebab bersistem anti-mainstream. Disini, anak, orang tua dan guru bersama seluruh komponen sekolah tak berhenti bergerak melakukan berbagai aktifitas.
Dikelas berapapun anak-anak itu berada, praktek adalah hal utama, simulasi terjadi pada apa saja dan siapa saja. Tema boleh sederhana, namun menjelma dalam setiap aspek hidup siswa. Bukan sekedar untuk intelegensi dan kognisi, tapi moral berkehidupan dan agama juga diisi. Sekolah ini adalah tempat dimana anak-anak menjadi sebagaimana adanya mereka. Bebas tertawa gembira, namun terus belajar beretika. Bahkan jika anak anda adalah ABK, dia akan dicintai apa adanya.
Berteman, bermain, dan belajar bersama sungguh terasa menyenangkan. Dalam pembelajaran anak dibiasakan dengan penguasaan bukan kemasan. Kalaupun penampilan dirasa perlu maka sifatnya memberdayakan keadaan. Apa yg ada dikreasi menjadi istimewa dan indah. Walaupun itu berasal dari sisa dan sampah.
Sekolah ini juga menuntut banyak keberanian, orangtua. untuk memberi kesempatan anak menjadi pribadi yang mandiri, tangguh, dan percaya diri. Bila sekedar batasan menjemput atau mengantar anak, itu hal yang biasa. Namun adakah sekolah lain yang begitu "tega" mengharuskan orangtua "melepas" pengawasan pada anak dan mempercayakan sepenuhnya pada guru-guru kelasnya untuk jauh dari rumah?
Begitulah ritme belajar di sekolah ini, perlu nyali yang kuat menjadi orangtua murid di sini. Kemampuan fisiknya diberi ruang yang luas agar seimbang dengan kebutuhan emosi. Outbond merupakan bagian dari pelajaran mingguan. Ketangkasan, leadership dan kematangan jiwa banyak didapat dari mulai outing dan outfa. Kegiatan berbagi makanan bagi penghuni kelas setiap minggu, adalah hal yg ditunggu semua. Home visit, day camp mengajari mereka mandiri dan pintar membawa diri. Market day setiap semester jadi ajang pertunjukan, pasar dan kreasi siswa. Open house sekolah yang diisi dengan menambah wawasan ttg pendidikan anak sangat memberi pencerahan. Belum lagi jk ada WWP (work with Parent), karya yg dibuat anak dan ortu bersama lalu dibuat galeri jadi ajang pameran meriah.

Akh.. Indahnya bersekolah disini, tak hanya anak yg belajar, tapi juga orang tua. Belajar peduli dan terlibat untuk kebajikan bersama terutama membangun karakter dan apresiasi terhadap karya. Belajar meningkatkan kemampuan walau itu terkesan sederhana dan mudah. Tak banyak teori dan tumpukan buku bagi kami. Tapi yang kami terima, hadapi dan pelajari dan berikan adalah pengalaman hidup keseharian.
Ini adalah sekolah yang mencetak human being bukan hanya human knowing. Sebab keyakinan bahwa, sesungguhnya inilah yg dibutuhkan bagi seorang anak dalam pendidikan. Sehingga ia tahu, untuk apa mencari ilmu itu.
Akh... anda tak kan bisa mengatakan itu, jika dalam bayangan anda adalah.. Sebuah sekolah yang berupa tempat orangtua "menitipkan" anak-anak untuk mendapatkan bekal pendidikan secara akademis agar mampu bersaing di era kompetisi. Dimana orangtua yang memacu anak-anaknya agar masuk sekolah negeri favorit dengan grade nilai tinggi, SPP selangit, materi banyak dari segala cabang ilmu, dengan harapan anak-anak mereka mampu berprestasi dan lebih baik dari anak-anak lain. Selanjutnya mampu menjadi orang dewasa yang sukses dan mapan dengan bekal "ilmu" dari sekolahnya tadi.
Tingkat kesulitan pada kurikulum semakin dinaikkan dengan alasan agar siswa lebih unggul dalam segala bidang dibandingkan lulusan tahun-tahun sebelumnya. Akibatnya, anak-anak memiliki tugas berat dalam menyelesaikan masa sekolahnya. Buku-buku memenuhi tas mereka setiap hari bagai membawa batu bata sekian kilogram.
Dan sistem pendidikan demikian komersial seperti jualanan di bursa saham. Sebab semua hal harus dihitung dan bayar dengan uang. Melupakan dogma orang tua kita, bahwa akhlak mulia tidak dijamin dari mahalnya sekolah. Bahwa keluhuran budi didapat dari ilmu kehidupan, bukan tumpukan teori yang sering membosankan.
Pendidikan karakter ibarat garam yang dilarutkan Tak terlihat namun bisa dirasakan Dia nyata namun sulit ditemukan Bumbu yang membuat rasa makanan menjadi seimbang. Sebuah lembaga pendidikan yang baik memang sudah seharusnya menuntut keterlibatan orangtua dalam proses belajar mengajar secara langsung, siapapun orangtuanya, sesibuk apapun dia.
Dasar pengetahuan itu membebaskan dari belenggu kebodohan dan kepicikan manusia. belajar bisa dimana saja, kapan saja dan dengan apa yang ada adalah sebuah wacana yang mulai terpinggirkan karena pengaruh komersialnya dunia pendidikan. kiranya ini menjadi sebuah wawasan baru sebagai pengingat kita, bahwa segala penjara yg membatasi dunia pendidikan harus singkirkan. Karena pada dasarnya, manusia adalah insan pembelajar.
Bahwa sebenarnya pelajaran-pelajaran akademis hanyalah satu bagian dari banyaknya ilmu yang harus dikuasai anak-anak. Bahwa yang seharusnya ditanamkan sebagai andalan penguasaan ilmu adalah akhlak mulia, ibadah pada Allah dan budi pekerti yang luhur, karena tanpa semua itu, setinggi apapun ilmu dunia yang dimiliki tidak akan membuat anak-anak timbuh menjadi manusia seutuhnya.
Bahwa mencetak manusia seutuhnya lebih rumit dari sekedar mengajari mereka pintar membaca, menulis, berhitung, menguasai matematika, fisika, kimia dan sebagainya. Bahwa saat di akherat nanti yang mempertanggungjawabkan berhasil tidaknya pendidikan anak di dunia ini bukanlah guru-guru mereka melainkan kita, orangtuanya, berhasilkah kita menjadikan mereka anak-anak yang soleh dan solehah.
Disini Mereka tumbuh bersama alam. Di sekolah ini lingkungan sekitar menjadi media pembelajar Menumbuhkan, merawat dan menyemai yg ditanam Semoga kesadaran ini terus terbawa dalam sendi kehidupan.
Alhamdulillah ya Allah, semoga pertemuan kami menjadi sebuah inspirasi. Sebab banyak sosok2 hebat ada disini, dgn segala kesederhanaan namun bercita2 mulia. Guru-guru muda yang dedikasinya sungguh tinggi dan kecintaan mereka pada anak kami, sepertinya tak terganti.
Dengarlah suara hati catatan dari gurumu nak. “Terkadang ada hal-hal yang sepertinya tampak biasa bagi orang lain diluar sana, tapi menjadi luar biasa bagi kita yang mengalaminya. Pribadi unik membawa pengalaman tak terlupa dan itu menjadi istimewa. Sungguh, selalu ada asa sebab kita percaya tak ada yang sia-sia. Kau tahu, melihatmu memberi banyak pelajaran. Bersamamu mengajarkanku tantang arti ketulusan dan kasih sayang. Semoga detik demi detik yang terlewati menjadi lebih baik. Mendung kali ini memang membawa berjuta asa, sebab akan bijaksana kita dengan meyakini bahwa kelak mendung kan berbuah pelangi selama mentari setia sinari hari.”
Ada orang2 tua gagah yg tertitip anak2 istimewa namun pantang menyerah dan tetap bangga. Sungguh disinilah kita belajar kembali tentang syukur, akan segala potensi yang anak2 kita miliki. Meneguhkan kembali iman diri, bahwa Tuhan tidak pernah menciptakan produk gagal. Berfikir bahwa, anak2 istimewa terlahir bagi orang tua-orang tua istimewa.
Bersama dengan guru istimewa itu bergandeng tangan meraih asa, melejitkan potensi yang Allah titipkan. Dengan cinta, kemandirian dan juga akhlak kepemimpinan.
Bacalah tulisan seorang guru bayangan dihari kelahiran muridnya. Nak, jika kau besar nanti, tetaplah menjadi pribadi yang menyenangkan dan bermanfaat bagi orang lain. Sebab nilai diri bukan terletak pada materi tapi seberapa besar diri ini berarti. Nak, mungkin saat ini kita tengah tersekat pada ruang yang tampak. Tetaplah belajar mengeja dunia, meski dalam tertatih adanya. Kelak kita pasti akan saling memahami walau dengan cara yang tidak biasa. Nak, jika suatu saat kau dapat membaca, ketahuilah bahwa begitu banyak orang bersamamu yang mencintai dan menjagamu. Terlebih lagi, ada Allah yang maha atas segalanya selalu ada untukmu.
Di sini, disekolah ini, anak-anak dan kita belajar bersama setiap hari. Sebab pendidikan bukan cuma tanggungjawab sekolah sebagai lembaga, namun juga tanggung jawab kita sebagai manusia. Mendidik anak lebih cinta pada ilmu dan alam dengan hati senang tanpa paksaan, akan menghasilkan keindahan amal dan karya nyata.
Khalil gibran mengingatkan kita... anak2mu bukanlah anak2mu, mereka adalah anak2 kehidupan yg rindu akan dirinya sendiri, mereka lahir lewatmu tapi bukan darimu, mereka ada padamu tp bukan milikmu, berikanlah kasih sayangmu, tapi bukan pemikiranmu, patut kau berikan rumah bagi raganya tapi tidak jiwanya, sebab jiwanya adalah penghuni masa depan yg tiada dapat kau kunjungi walau dlm mimpi, kau boleh menyerupai mereka, tapi jgn buat mereka menyerupaimu, sebab kehidupan tak pernah mundur atau tenggelam ke masa lalu.