Selasa, 28 November 2017

Menggendong Uwais hingga mimpi


Anak-anakku merasa seperti melihat buku sejarah buat kuliah ketika membaca biografi rasul dan atlasnya yang lumayan agak serius materinya. padahal aku sudah berusaha memilah milah dan menyampaikannya dengan gaya bahasa yang sesuai dengan mereka. namun itu ternyata kurang berhasil juga.
akhirnya kami beralih ke buku tematik tentang hewan. hewan yang berhubungan dengan sains, al qur'an, kisah rasul juga fabel atau dongeng jenaka. malam ini, sampailah kami pada kisah lembu atau sapi yang memiliki banyak manfaat dalam hidupnya.
diawali dengan jenis-jenis sapi yang ada didunia. lalu kisah sapi betina samiri yang menakjubkan bangsa israel dan membuat musa mengamuk pada harun saudaranya, hingga fabel si lemo sapi yang kerjanya makan saja tapi malas berolah raga akhirnya berubah kebiasaan karena badannya sakit-sakitan tak pernah digerakkan. sambil diskusi diselingi tawa, aku dan anak-anakku mencoba mengambil hikmah. namun diakhir cerita... ada kisah menarik jiwa kami bersama. sepertinya cerita sahabat rasul ini sudah sering kita dengar, namun aku sendiri baru merasa komplit ketika membacanya tadi malam. mau tau......
"Pemuda Penggendong lembu"
"uwais aneh... uwais aneh..."begitu teriak orang-orang padanya.
namun uwais hanya diam tak menanggapi. bukan karena ia tak bisa menjawab, tapi ia tak peduli. karena hidupnya, sudah penuh dengan ejekan. bagaimana tidak, dengan tubuh yang kurang sempurna akibat penyakit kusta yang diderita sejak lama, cela dan cibiran adalah menu telinga sehari hari. lalu apa bedanya, dengan apa yang ia lakukan kini. orang-orang kian menjadi menjelek-jelekkan. yah... itu karena uwais selalu menggendong seekor anak lembu sejak lembu itu ia beli di pasar.
anak lembu itu di gendong uwais setiap hari naik turun bukit, terus menerus tanpa henti. ia masih saja tidak peduli dengan omongan orang disekitarnya. bahkan itu menjadi pemandangan yang biasa hingga akhirnya orang-orang mendiamkan apa yang ia lakukan. sehari dua hari... seminggu dua minggu... sebulan dua bulan... hingga masuk bulan kedelapan dan lembu itu kian besar. namun karena uwais menggendongnya setiap hari dan tenaga yang dikeluarkan melatih beban tidak drastis, membuat uwais tetap bisa mengangkat anak lembu tersebut hingga beratnya mencapai 100kg.
tapi ... apa sebenarnya tujuan uwais menggendong lembu ?
ohhh... ternyata ia sedang berlatih. ia berlatih menggendong lembu itu setiap hari guna mewujudkan keinginan mulia ibunya. ibu uwais adalah wanita tua renta nan lumpuh. ia punya keinginan naik haji disisa usia. sementara jarak antara mekah dan yaman sungguh jauh adanya. mereka bukanlah orang kaya, yang bisa membeli unta atau menyewanya untuk perjalanan kesana. uwais hanya punya tenaga dan tekad yang bulat, jadilah uwais berniat menggendong sang ibu berhaji dan tawaf hingga ke pintu baitullah..
saat berdoa di ka'bah, uwaispun hanya memohon pada Allah, untuk mengampuni dosa-dosa ibunya. ibu uwais terheran, mengapa ia lakukan itu. uwais berkata," jika dosa ibu diampuni, lalu ibu masuk surga. maka cukuplah bagiku ridha ibu yang membawaku ke sana."
sungguh uwais anak yang berbudi mulia. ketaatannya pada Allah dan baktinya pada sang ibu, sungguh patut ditiru.
anak-anakku sampai spheecles membahas hal ini. wah... kata mereka. lalu bertanya, mungkinkah sekarang ada yang melakukannya ? ada, saya bilang. kebetulan kemarin saya dapat postingan ini.
anakku, ku bawakan kisah indah penuh hikmah menjelang tidurmu. kiranya itu menjadi asa penghias buat esok hari yang akan kau jalani.

jempol buat amel

#1

Kulit kuning langsatnya kini agak pekat. Sebab ia tlah nyaman berteman dengan mentari. Berjalan, berlari dan bermain dilapangan tak lagi risih. Tak begitu banyak kegaduhan terjadi sebab kontrol diri tlah ia miliki. Senyumnya mulai bermakna, dan tertuju jelas pada apa dan siapa. Walau kata yg terucap masih langka, ia sudah menoleh saat disapa.
Lama sudah ku tak bersua, hari ini adalah kesempatan kembali bersama. Berinteraksi ke taman BMKG kota. Ku menyapanya seperti dulu dalam ramah, semula kupikir ia lupa. Tapi ternyata tak ada rasa kaku mendampingi. Dengan luwes ia menanggapi segala ucapanku dengan reaksi tubuh. Merapat, mengikuti dan tersenyum selalu. seolah ada rindu tergurat dalam ungkapan bisu.
Amel sdh besar yaa.. wajah bayimu sudah berubah, kataku sambil mencoel pipinya. Mata bundar itu berbinar, perintah merapikan poni yg menjulur ke luar ia lakukan dgn benar menggunakan kedua tangan. Enngg... enggh... suara itu yg keluar sesekali sepanjang perjalanan. Kadang kepalanya memutar atau keningnya berkerut seolah mencoba menghafal jalan.
3 Tahun waktu diperlukan. Bagi anak spesial sepertinya mengalami perubahan. Mengontrol diri tak lari kesana sini tanpa tujuan. Bereaksi pada sikap orang disekitar. Juga faham maksud sesuatu dilakukan. Ia telah mandiri mengurus diri dan merapikan barang2nya tanpa bantuan. Semua ungkapan yg orang berikan dia bisa faham. Satu hal yang kami rindu... bibir mungil itu mengeluarkan suara dan berkata-kata. Sebab amel bukan bisu, ia sedang mengumpulkan kekuatan tuk melakukan itu. Dan kami semua menunggu dalam doa dan waktu.

Rindu Hujan 2

Kami letih mengadu pada pemimpin negeri. 
Dari level apapun ia berada kini. 
Kalaulah mereka bernyali, coba datang kemari, bawa anak dan istri lalu hiruplah udara ini.

Walau ada bimbang, sebab bencana datang tanpa diundang manakala umat meninggalkan ajaran dan teladan.
Dalam istisqo kamipun bersimpuh, menundukkan kepala ke tanah
Berbisik pada bumi tuk maafkan segala, perbuatan sebagian manusia yg semena-mena memperlakukannya.

Mengharap hanya pada Allah kiranya untaian doa itu mengangkasa menggetarkan langitNya. 
Lalu menurunkan hujan menyapu asap tebal yang lebih sebulan menyesakkan dada.

Allah... kami rindu hujan. 
Tapi sungguh hati malu menyaksikan 
Betapa kami tak benar-benar berikhtiar 
Pabrik2 kami masih mengumbar asap menambah kepekatan 
Rumah2 kami seperti kehilangan akal menangani sampah kering dihalaman lalu dengan semena2 kami bakar 
Kenderaan2 kami masih hilir mudik dikepadatan kota menambah polusi udara seperti biasa...

Lalu apa bedanya ? 
Kita semua memang berperan, dalam drama asap yang menghimpit dan menyesakkan 
Masihkah jari menunjuk perusahaan besar pembakar hutan, jika hal kecil saja masih sukar dihindar

Bumi... pantas saja kau tuli dari bisik maaf kami 
Karena kau tau kami sebenarnya tak peduli 
Langit... pantas saja kau tak tergetar 
Karena doa kami masih terhalang oleh kefasikan 

Allah... jika dahulu sahabat kekeringan, lalu mendatangi rasul dan meminta didoakan... 
Kini... pada siapa kami harus adukan ??


Semoga lirih taubat kami yang sendirian, dimalam sunyi dalam tahajud panjang akan Engkau dengarkan... 
Bahwa kami, hamba2 Mu tak akan berputus asa dari ampunan dan harapan... 
Bukankah doa tulus dengan Mu tak ada penghalang ? 
Maka izinkanlah rindu hujan itu hanya padaMu ku gantungkan.

Sholat Ied dalam pekat



Hari ini bukan cuma umat palembang yang berkurban, namun juga bumi sriwijaya. Kabut asap pekat mendekap kami dalam sholat ied penuh hikmat. Pemimpinnya dengan nada bergetar memohon maaf dengan segala kejadian. Berbagai upaya sebagai manusia telah diikhtiarkan namun alam sepertinya belum meredam rasa marah seperti menantang manusia tuk merasakan sakit yang ia derita.

Tanah... maaf kan kami yang mengobrak abrik mu sesuka hati Udara... maaf kan kami yang membalas sejukmu dengan polusi industri Air... maafkan kami yang menghambat langkah alirmu dengan semen dan batu agar nyamanlah hunian kami Hutan... maafkan kami yang menerabas hijaumu dengan semena-mena demi kertas, perabot dan gaya hidup kami Bumi... maaf kami yang mengorek isi perutmu atas nama eksplorasi


Allah... maaf kan kami... diujung sholat kami selip qunut nazilah penanda kami menyerah hanya pada kekuasaanMu saja...

Berharap Hujan

Dari balik jendela masih menimbang2 tuk keluar dan bersihkan halaman. Sebab mati lampu sore hingga isya kemarin, anak2 bermain lilin dan bakaran. Akibatnya sampah abu berserakan. Menambah debu kebakaran hutan yang memang sdh hadir seharian.

Akh... malas melanda. 30 menit sesudah pembersihan, toh... abu2 lain kembali hadir menyerbu, menumpuk, teronggok disembarang tempat. Jadi kuputuskan didalam rumah saja, sebab sepertinya udara segar kian langka dan itu yg paling kami butuhkan sekarang.

Sibungsu sekolahnya kembali diliburkan. Sangat beresiko bertahan belajar pd kelas2 tanpa ruangan. Siswa2nya sebagian telah ispa, hingga diputuskan tuk belajar saja dirumah.


Kepala BMKG bilang dikoran, tuk hilangkan kabut asap kini, dibutuhkan hujan deras selama 3 hari. Tapi bagaimana bisa, wong gerimis saja masih enggan menyapa, mungkinkah langit kami tak lagi berair mata ?? Description: https://static.xx.fbcdn.net/images/emoji.php/v9/f90/1/18/1f622.png😢

Rindu hujan

Kami letih mengadu pada pemimpin negeri
Dari level apapun ia berada kini
Kalaulah mereka bernyali, coba datang kemari
Bawa anak dan istri lalu hiruplah udara ini.

Walau ada bimbang, sebab bencana datang tanpa diundang 
Manakala umat meninggalkan ajaran dan teladan.
Dan kamipun bersimpuh, menundukkan kepala ke tanah
Berbisik pada bumi tuk maafkan segala
Perbuatan sebagian manusia yg semena-mena memperlakukannya.

Mengharap hanya pada Allah 
Kiranya untaian doa itu mengangkasa menggetarkan langitNya
Lalu menurunkan hujan menyapu asap tebal 
Yang lebih sebulan menyesakkan dada.


Allah... kami rindu hujan.

Asap

Asap biasanya berlalu 
Tak kan lama kala hadir 
Mengikuti arah angin berkayuh 
Tinggi ke angkasa lalu berakhir

Namun kini langit tempat kembali sudah tak sudi 
Menjadi keranjang sampah polusi 
Dengan berat hati awan kembali 
Ke daratan dimana ia dilahirkan

Jangan marah padaku hai manusia 
Jika oksigen menggandengku dalam nafasmu 
Atau sangitku melekat pada tiap sudut rumahmu 
Sungguh itu bukan mauku 
Karena kaulah yang hadirkanku


Hadapi aku dengan akalmu 
Maka sunnatullah kan berlaku 
Tapi kendalimu ada dihati 
Yang dalamnya tak bertepi 
Bahkan hanya untuk solusi 
Yang berulang kali kau temui

Air mata wanita

#2

Mataku masih merah disusup hikmah pagi tak terduga. Hati juga masih kelu menyusut ciut menyadari tempat kembali nanti. satu satunya yg masih terlihat tegar adalah sang fikir diujung pagar prasangka baiknya. Sementara bibir berkomat kamit tak henti memanjatkan doa sapu jagàt penjaga niat. Apa yg diduga sudah didepan mata. Dan Allah memang maha dalam membaca ketakutan hambanya. Seolah ingin memojokkan jasadku lalu berteriak diruang hampa. Pada siapa kau mau bersandar sekarang hai sang fana !!

Sesosok wanita setengah baya yg masih tampak gagah dan lincah hadir di hadapan. Sisa2 ketegaran masih terlihat walau wajahnya tertunduk tanpa kata. Mata sembab itu nyaris mengalahkan warna sagaku. posisi tubuh kecil dalam balutan kulit terpanggag mentari, melukiskan kisah hidup penuh perjuang diri. Diam-diam dalam lirikan, aku mengagumi. Aura ketegaran seorang ibu memancar tak bisa ku hindar. Menyusup memanggil naluri mengajak duduk bersama berbagi rasa. Bagaimana jika beranak tak sesuai asa. Apakah harus membuangnya atau melindungi sesuai kodrat diri ? Keduanya sama2 membuat luka. Keduanya sama2 pertaruhkan makna, akan jati diri seorang wanita. Untuk apa ia menjelma menjadi sosok ibu didunia.

Bersisian tepat dihadapan. Berambut lurus, berwajah tirus, putih bersih berhias bibir tipis menawan. Sayang cahaya diraut itu nyaris sirna, oleh goresan beban luka hidup yang ia terima. Ringkih tubuh langsingnya seolah menggambarkan ada kepasrahan yang hadir tidak ditempatnya. Rasa benakku ingin duduk bersama, mendengar cerita yg ia punya hingga puas lalu mengajak berlogika menghadapi masalah. Agar tegas sikap pada batas benar dan salah, walau itu buat belahan jiwa penegak penjaga rumah tangga.

Namun ternyata disisiku bukan mereka. Melainkan gadis belia dengan tubuh sempurna dambaan pria. Rambut ikal itu sengaja berwarna berbeda dari biasa, memberi kesan ia tak menyadari kecantikan alami yang dimiliki. Tangannya menggenggam jari2ku sejak tadi. Diiringi diri yàng berguncang tak henti. Tangis dan raungan kian lama kian sulit dikendalikan. Jika mengingat usia belianya, kita akan lebih mudah memaklumi. Bahwa seolah nyawa hidup cintanya akan ditentukan disini. Sebab apalagi yg lebih menyayat hati? Bagi para pecinta yg sedang mabuk asmara? Konon itu akan diresmikan segera dan terancam gagal karena sebuah peristiwa ?

Yah... kejadian minggu pagi ini, kabutnyà menyatukan kami, 4 wanita dalam air mata. Bersama duďuk berbagi rasa, dari sudut dàn versi yang berbeda. Sayangnya 1x24 jam itu bukan pilihan karena ampunan dàn kata maaf tak mengurangi pertanggungjawaban. Lalu aku mengakhiri tanpa janji, sambil membawa beban jawaban dalam sajadah panjang tengah malam.


Ku dialog pada sang rohim, pelindung segala kesejatian. Meminta ia jaga kekuatan niat dan prasangka, agar tak bergeser menjadi fitnah. Sungguh Ia kreator ulung, dari segala rencana dàn pencapaian kita. Tak ada apa2nya, kala yg ditetapkan sampai jua. Suka atau tidak, siap atau tidak, sadar atau tidak akan tiba masa dimana kita cukup ikuti saja skenarioNya tanpa tanya. Dan biarkan hikmah2 menjelma menjadi jawaban indah. Sebab janji kita dulu dan pintaNya cuma satu , berserahlah !!!

lelaki kalian dan aku

#1

detik demi detik kan terasa saat diam, seolah melambat memancing kesadaran. namun tidak ketika bergerak, energi seringkali membakar rasa dan yang hadir cuma logika dari berbagai rencana. itulah langkah yang ku bawa dipagi tanpa mentari. udara kelembabannya sirna akibat pelukan asap, seolah tak cukup kehangatan, ketika manusia berkerumun berlomba memproduksi keringat dengan alasan ingin sehat.

dilangkah ketiga bersisian dengan sibungsu, Allah takdirkan waktu trhiller dihidupku. sekelebat bayangan menyapu bahu, membawa tas selempang yang kusandang terbang keangkasa berpindah tangan. jasadku refleks berputar berlari mengejar. dalam lolongan panjang yang masih sanggup kuteriakkan. 'tolongg...... berikutnya entah apa sebutan persis bagi mereka yang mengambil barang orang tanpa izin bahkan dengan paksaan. pencuri... jambret... maling... dan sebagainya. otakku tak bisa mencerna kesingkronan dengan kata yang melompat tak beraturan. kakinyataku terus berlari seolah 100meter itu begitu dekat. entah kekuatan mana menyanggah jantungku masih berdegup biasa. sebab logika masih menyadarkanku untuk kembali menemui 4 bocah yang kubawa. semua menyusul tertinggal, kujumpai mereka mencoba menenangkan. diwarnai tangis sibungsu yang takut kehilangan. ku berpesan tuk tetap ditempat, dimana bermula semua kejadian.

belum selesai pesanku, sebagian orang memberitahu bahwa teriakanku berakibat fatal. sang pelaku tertangkap dikerumunan, kini nyawanya sedang dipertaruhkan. sungguh mendengar itu, cuma tubuhku yang terbang. sementara hatiku meregang mengawang mencari pegangan. pada kekuatan dimana ia berasal. logika berfikirku berkata, jangan biarkan mereka !! ditengah kerumunan massa yang begitu marah, tanpa risih dan sadar aku sudah berada ditengahnya. berbaur dengan mereka yang nyaris lelaki semua. ku jumpai 2 sosok asing, yang satu terkulai menghadap tanah dengan darah bersimbah dimana-mana dan satu lagi duduk terunduk berantakan tak berupa. ya Allah.., apa rencanaMu. bisikku sendiri bertanya.

tak sanggup mengurai kata bagaimana membaranya peristiwa dalam skenario besar yang tak terduga. bahkan dalam mimpipun ku tak ingin mengalaminya. tapi apa bisa ??untuk saat yang lama, aku tersadar menjadi bidak dan yang melekat cuma titipan. ketika keinginan dan rencana2 hidupmu begitu jadi penghias waktu. ketika pencapaianmu memesona mengaburkan pandangan yang semestinya. ketika kau berfikir... ajal cuma lekat dinyawa bukan pada yang lainnya. itulah mengapa lalaimu masih ada.

aku masih sanggup berjalan tegak seperti biasa. tak ada air mata, juga amarah. bisik tanyaku belum terjawab, mungkin itu yang membekukan rasa. pasrah... ikhlas... aku tak bisa lagi menerjemahkannya. pandangan manusia berkata, banyak keajaiban disana. tak ada luka ditubuhku, padahal tak mudah menarik tas selempang panjang tanpa rencana, dari tubuh yang bukan berbentuk tiang lurus saja. kemungkinan terjebab, terseret atau terhentak adanya. lalu aku yang biasa tak tahan melihat orang terluka berpeluh darah, kini berposisi menjadi penjaga agar tak dihabisi amarah massa hingga petugas tiba. entah sosok yang mana didiriku saat itu, aku belum mengenalinya. mungkin aku sedang menjelma mencuri kekuatan tokoh fiksi yang kusukai. tapi itu pasti ulahnya Sang Sutradara.

rol film ku masih berputar, berpindah lokasi ke sebuah bangunan. dimana segala cerita kejahatan manusia tercatatkan. ku duduk dikursi tamu dengan rasa hampa, mencoba menjawab semua dengan apa adanya. tatapanku sesekali menghadap kedepan, pada 2tubuh yang mencoba bertahan dipojokan. tak boleh bersandar, sebab saat laras kaki petugas menerjang akan menjadi hantaman yang tak terperikan. 6 orang yang datang, ke 6 itu mengambil peran. kutegak dan tegarkan posisi badan, kiranya itu berdampak belas kasihan. tapi sungguh, itu tak berpengaruh. disini semua prajurit sudah terlatih tak mengenal kelembutan. ketak te'gaan akan menjadi manipulasi bagi orang-orang yang buta keselamatan. jadi kekerasan, kekejaman juga kete'gaan adalah sahabat mereka. itulah logika sederhana yang kupakai memahami kondisi. tak ada kata terucap melihat pembantaian kedua. jika merasa tak sanggup cukup kupejamkan saja mata. tak berani berhenti melapazkan mantra asmaNya, dengan harapan aku merasa tak sendirian.

didetik terakhir perjumpaan, ku beranikan diri mendekati mereka dengan hati perempuan. sebongkah kalimat yang ingin kumuntah, hasil dari cerna mata mengenal mereka selama 2 jam. "kau punya keluarga? keduanya mengangguk lesu disisa tenaga. "apa yang ibumu sekarang rasakan?" tatapanku pada yang lebih muda. "kau punya istri dan anak? alihku pada yang lebih tua. "bagaimana kalau mereka tahu suami dan ayahnya disini?" kalimat-kalimat itu meluncur dalam nada bergetar. menggoncangkan kami semua diruangan dalam tangisan. padahal dari tadi luka yang mereka terima tak mampu mengundang air matanya. padahal aku nyaris lupa, dimana hulu air mataku. namun kesyahduan itu tak lama, buyar oleh sebuah teriakan meng "cut" adegan. seolah betah melihat sosok tegar yang sejak tadi kumiliki "alahhhh... kalau mereka mikir keluarga, mana mereka lakukan." kata reserse itu sambil menepuk-nepuk tumpukan berkas ke kepala ke2 nya secara bergantian.


pengenalan kita belum berakhir, bahkan baru dimulai. sebab sebagai wanita aku akan terkoneksi. pada sosok-sosok yang mendampingi kedua lelaki tadi. Allah.., jangan tinggalkan kami. sebab seorang perempuan memiliki takdirnya sendiri, ketika rahim Allah titipkan maka rasa kasih menjadi makna diri. walaupun itu berhadapan dengan marwah dan luka tak terperih.

Sekolah Alam bukan Sekolah Biasa

Kami ingin bercerita, tentang sebuah sekolah dimana anak-anak kami di didik dan di bina. Ini bukan sekolah biasa, sebab bersistem anti-mainstream. Disini, anak, orang tua dan guru bersama seluruh komponen sekolah tak berhenti bergerak melakukan berbagai aktifitas.
Dikelas berapapun anak-anak itu berada, praktek adalah hal utama, simulasi terjadi pada apa saja dan siapa saja. Tema boleh sederhana, namun menjelma dalam setiap aspek hidup siswa. Bukan sekedar untuk intelegensi dan kognisi, tapi moral berkehidupan dan agama juga diisi. Sekolah ini adalah tempat dimana anak-anak menjadi sebagaimana adanya mereka. Bebas tertawa gembira, namun terus belajar beretika. Bahkan jika anak anda adalah ABK, dia akan dicintai apa adanya.
Berteman, bermain, dan belajar bersama sungguh terasa menyenangkan. Dalam pembelajaran anak dibiasakan dengan penguasaan bukan kemasan. Kalaupun penampilan dirasa perlu maka sifatnya memberdayakan keadaan. Apa yg ada dikreasi menjadi istimewa dan indah. Walaupun itu berasal dari sisa dan sampah.
Sekolah ini juga menuntut banyak keberanian, orangtua. untuk memberi kesempatan anak menjadi pribadi yang mandiri, tangguh, dan percaya diri. Bila sekedar batasan menjemput atau mengantar anak, itu hal yang biasa. Namun adakah sekolah lain yang begitu "tega" mengharuskan orangtua "melepas" pengawasan pada anak dan mempercayakan sepenuhnya pada guru-guru kelasnya untuk jauh dari rumah?
Begitulah ritme belajar di sekolah ini, perlu nyali yang kuat menjadi orangtua murid di sini. Kemampuan fisiknya diberi ruang yang luas agar seimbang dengan kebutuhan emosi. Outbond merupakan bagian dari pelajaran mingguan. Ketangkasan, leadership dan kematangan jiwa banyak didapat dari mulai outing dan outfa. Kegiatan berbagi makanan bagi penghuni kelas setiap minggu, adalah hal yg ditunggu semua. Home visit, day camp mengajari mereka mandiri dan pintar membawa diri. Market day setiap semester jadi ajang pertunjukan, pasar dan kreasi siswa. Open house sekolah yang diisi dengan menambah wawasan ttg pendidikan anak sangat memberi pencerahan. Belum lagi jk ada WWP (work with Parent), karya yg dibuat anak dan ortu bersama lalu dibuat galeri jadi ajang pameran meriah.

Akh.. Indahnya bersekolah disini, tak hanya anak yg belajar, tapi juga orang tua. Belajar peduli dan terlibat untuk kebajikan bersama terutama membangun karakter dan apresiasi terhadap karya. Belajar meningkatkan kemampuan walau itu terkesan sederhana dan mudah. Tak banyak teori dan tumpukan buku bagi kami. Tapi yang kami terima, hadapi dan pelajari dan berikan adalah pengalaman hidup keseharian.
Ini adalah sekolah yang mencetak human being bukan hanya human knowing. Sebab keyakinan bahwa, sesungguhnya inilah yg dibutuhkan bagi seorang anak dalam pendidikan. Sehingga ia tahu, untuk apa mencari ilmu itu.
Akh... anda tak kan bisa mengatakan itu, jika dalam bayangan anda adalah.. Sebuah sekolah yang berupa tempat orangtua "menitipkan" anak-anak untuk mendapatkan bekal pendidikan secara akademis agar mampu bersaing di era kompetisi. Dimana orangtua yang memacu anak-anaknya agar masuk sekolah negeri favorit dengan grade nilai tinggi, SPP selangit, materi banyak dari segala cabang ilmu, dengan harapan anak-anak mereka mampu berprestasi dan lebih baik dari anak-anak lain. Selanjutnya mampu menjadi orang dewasa yang sukses dan mapan dengan bekal "ilmu" dari sekolahnya tadi.
Tingkat kesulitan pada kurikulum semakin dinaikkan dengan alasan agar siswa lebih unggul dalam segala bidang dibandingkan lulusan tahun-tahun sebelumnya. Akibatnya, anak-anak memiliki tugas berat dalam menyelesaikan masa sekolahnya. Buku-buku memenuhi tas mereka setiap hari bagai membawa batu bata sekian kilogram.
Dan sistem pendidikan demikian komersial seperti jualanan di bursa saham. Sebab semua hal harus dihitung dan bayar dengan uang. Melupakan dogma orang tua kita, bahwa akhlak mulia tidak dijamin dari mahalnya sekolah. Bahwa keluhuran budi didapat dari ilmu kehidupan, bukan tumpukan teori yang sering membosankan.
Pendidikan karakter ibarat garam yang dilarutkan Tak terlihat namun bisa dirasakan Dia nyata namun sulit ditemukan Bumbu yang membuat rasa makanan menjadi seimbang. Sebuah lembaga pendidikan yang baik memang sudah seharusnya menuntut keterlibatan orangtua dalam proses belajar mengajar secara langsung, siapapun orangtuanya, sesibuk apapun dia.
Dasar pengetahuan itu membebaskan dari belenggu kebodohan dan kepicikan manusia. belajar bisa dimana saja, kapan saja dan dengan apa yang ada adalah sebuah wacana yang mulai terpinggirkan karena pengaruh komersialnya dunia pendidikan. kiranya ini menjadi sebuah wawasan baru sebagai pengingat kita, bahwa segala penjara yg membatasi dunia pendidikan harus singkirkan. Karena pada dasarnya, manusia adalah insan pembelajar.
Bahwa sebenarnya pelajaran-pelajaran akademis hanyalah satu bagian dari banyaknya ilmu yang harus dikuasai anak-anak. Bahwa yang seharusnya ditanamkan sebagai andalan penguasaan ilmu adalah akhlak mulia, ibadah pada Allah dan budi pekerti yang luhur, karena tanpa semua itu, setinggi apapun ilmu dunia yang dimiliki tidak akan membuat anak-anak timbuh menjadi manusia seutuhnya.
Bahwa mencetak manusia seutuhnya lebih rumit dari sekedar mengajari mereka pintar membaca, menulis, berhitung, menguasai matematika, fisika, kimia dan sebagainya. Bahwa saat di akherat nanti yang mempertanggungjawabkan berhasil tidaknya pendidikan anak di dunia ini bukanlah guru-guru mereka melainkan kita, orangtuanya, berhasilkah kita menjadikan mereka anak-anak yang soleh dan solehah.
Disini Mereka tumbuh bersama alam. Di sekolah ini lingkungan sekitar menjadi media pembelajar Menumbuhkan, merawat dan menyemai yg ditanam Semoga kesadaran ini terus terbawa dalam sendi kehidupan.
Alhamdulillah ya Allah, semoga pertemuan kami menjadi sebuah inspirasi. Sebab banyak sosok2 hebat ada disini, dgn segala kesederhanaan namun bercita2 mulia. Guru-guru muda yang dedikasinya sungguh tinggi dan kecintaan mereka pada anak kami, sepertinya tak terganti.
Dengarlah suara hati catatan dari gurumu nak. “Terkadang ada hal-hal yang sepertinya tampak biasa bagi orang lain diluar sana, tapi menjadi luar biasa bagi kita yang mengalaminya. Pribadi unik membawa pengalaman tak terlupa dan itu menjadi istimewa. Sungguh, selalu ada asa sebab kita percaya tak ada yang sia-sia. Kau tahu, melihatmu memberi banyak pelajaran. Bersamamu mengajarkanku tantang arti ketulusan dan kasih sayang. Semoga detik demi detik yang terlewati menjadi lebih baik. Mendung kali ini memang membawa berjuta asa, sebab akan bijaksana kita dengan meyakini bahwa kelak mendung kan berbuah pelangi selama mentari setia sinari hari.”
Ada orang2 tua gagah yg tertitip anak2 istimewa namun pantang menyerah dan tetap bangga. Sungguh disinilah kita belajar kembali tentang syukur, akan segala potensi yang anak2 kita miliki. Meneguhkan kembali iman diri, bahwa Tuhan tidak pernah menciptakan produk gagal. Berfikir bahwa, anak2 istimewa terlahir bagi orang tua-orang tua istimewa.
Bersama dengan guru istimewa itu bergandeng tangan meraih asa, melejitkan potensi yang Allah titipkan. Dengan cinta, kemandirian dan juga akhlak kepemimpinan.
Bacalah tulisan seorang guru bayangan dihari kelahiran muridnya. Nak, jika kau besar nanti, tetaplah menjadi pribadi yang menyenangkan dan bermanfaat bagi orang lain. Sebab nilai diri bukan terletak pada materi tapi seberapa besar diri ini berarti. Nak, mungkin saat ini kita tengah tersekat pada ruang yang tampak. Tetaplah belajar mengeja dunia, meski dalam tertatih adanya. Kelak kita pasti akan saling memahami walau dengan cara yang tidak biasa. Nak, jika suatu saat kau dapat membaca, ketahuilah bahwa begitu banyak orang bersamamu yang mencintai dan menjagamu. Terlebih lagi, ada Allah yang maha atas segalanya selalu ada untukmu.
Di sini, disekolah ini, anak-anak dan kita belajar bersama setiap hari. Sebab pendidikan bukan cuma tanggungjawab sekolah sebagai lembaga, namun juga tanggung jawab kita sebagai manusia. Mendidik anak lebih cinta pada ilmu dan alam dengan hati senang tanpa paksaan, akan menghasilkan keindahan amal dan karya nyata.
Khalil gibran mengingatkan kita... anak2mu bukanlah anak2mu, mereka adalah anak2 kehidupan yg rindu akan dirinya sendiri, mereka lahir lewatmu tapi bukan darimu, mereka ada padamu tp bukan milikmu, berikanlah kasih sayangmu, tapi bukan pemikiranmu, patut kau berikan rumah bagi raganya tapi tidak jiwanya, sebab jiwanya adalah penghuni masa depan yg tiada dapat kau kunjungi walau dlm mimpi, kau boleh menyerupai mereka, tapi jgn buat mereka menyerupaimu, sebab kehidupan tak pernah mundur atau tenggelam ke masa lalu.

Bayangan

Kau adalah bayangan 
Bagi mereka yang rindu kasih dan sayang 
Mendekap ramah tubuh dalam sapa senyum selalu

Kau adalah bayangan 
Bagi kata yang hilang dikehidupan 
Mengurai kisah dari benak yang bimbang dan hati yang gelisah 
Merajut benang merah berbagai hikmah

Kau adalah bayangan 
Bagi langkah-langkah hampa tanpa tujuan 
Membuka jalan menggandeng dan bersisian menelusuri harapan

Kau adalah bayangan 
Menyusup dijiwa yang sayup, membasuh dikesegaran
Mengungkit bangkit layu semangat

Kau adalah bayangan 
Dilena fikiran zona nyaman
Menerobos pandangan merasakan sekitar

Kau adalah bayangan 
Yang cuma lewat sekelebat hadir 
Hingga bertemu cahaya sejati 
Lalu melebur menjadi abadi


ibu berdoa

seorang ibu berdo'a
tentang hal baik yang akan diraih anaknya
tentang hal kemanfaatan yang dilakukan buah hatinya
tentang hal benar yang diniatkan generasinya
perlindungan bagi godaan pada anaknya
kekuatan bagi kelemahan buah hatinya
harapan bangkit bagi keterpurukan generasinya

seorang ibu berdo'a
dalam diam untuk anaknya yang tak mendengar
dalam ucapan untuk buah hatinya yang sedang lalai
dalam sikap untuk generasinya yang butuh teladan
seorang ibu berdo'a
kesehatan raga anak-anaknya
kemuliaan akhlak buah hatinya
keikhlasan hati generasinya

seorang ibu berdo'a
sejak mula benih itu dalam asanya
sepanjang tarikan nafas yang ia punya
sejauh pandangan mata hingga senja
sebanyak daya yang melekat di usia

do'a-do'a itu kekuatan terdasyatnya
laksana guncangan rahim saat ketuban pecah
hingga bergetar Arrasy Nya
maka bermohonlah pada restunya...

Senin, 27 November 2017

senja di banda



Senja merona di banda
merasuk bias sukma
Lukisan kataku sirna
Kala surya memejam mata

Pesona malam
jangan biarkan mimpi kesepian
akankah kau hadirkan ilham
agar anganku berteman

17 nop 2017

Pendar sinar



Teruslah mengikuti sinar
Walaupun ia mau tenggelam
Pancarannya kan bisa kau temukan
pada bayangan tersamar
Karena sesungguhnya cahaya
Tidak pernah benar-benar hilang
Bahkan di pekatnya malam
Suatu benda kan memendar


17 nopember 2017

istri istri nabi

Istri nabi
Sosok para nabi adalah manusia pilihan Allah yang mengemban amanah dakwah buat umat. Dalam menjalankan misinya mereka didampingi istri. Perempuan beragam karakter, yang sabar dan teguh akan menguatkan. Yang berkorban harta, waktu dan perhatian mendapat cinta penuh ketulusan. Namun sejarah juga mencatat bahwa, diantara mereka ada pula yang menjadi penghalang dan kelemahan. Dimana risalah yang diemban para nabi, merekalah sang penentang.
Apa gerangan ? Mengapa demikian ? Banyak hikmah bisa dipetik dari peran mereka dimasa kenabian. Kisahnya mungkin tak banyak kita temukan, kecuali tentang istri-istri nabi Muhammad SAW.
Buku ini sudah lama ada dalam almari, hari ini tergerak untuk ditelusuri. Kisah siapa sajakah yang tersaji :
1. Hawa istri Adam
2. Wali'ah istri Nuh
3. Sarah dan Hajar istri Ibrahim
4. Walihah istri Luth
5. Ri'lah istri Ismail
6. Rahil istri Ya'qub
7. Syafura istri Musa
8. Asyya' istri Zakaria
9. Khadijah binti khuwailid
10.Saudah binti Zam'ah
11. Aisyah binti Abu Bakar
12. Habsah binti Umar
13. Zainab binti Khuzaimah
14. Ummu Salamah
15. Zainab binti Jahsy
16. Juwairiyah binti Al Harits
17. Ummu Habibah
18. Syafiyyah binti Huyay
19. Mimunah binti Al Harits
Berguna untuk menjadi cermin, seperti apakah sosok diri sebagai pendamping suami. Walau tidak sehebat para istri nabi, saat membacanya akan punya gambaran. Bagaimana ketegaran disisi seseorang yang menjalankan misi kehidupan