Mataku masih merah disusup hikmah pagi tak terduga. Hati
juga masih kelu menyusut ciut menyadari tempat kembali nanti. satu satunya yg
masih terlihat tegar adalah sang fikir diujung pagar prasangka baiknya.
Sementara bibir berkomat kamit tak henti memanjatkan doa sapu jagàt penjaga
niat. Apa yg diduga sudah didepan mata. Dan Allah memang maha dalam membaca
ketakutan hambanya. Seolah ingin memojokkan jasadku lalu berteriak diruang
hampa. Pada siapa kau mau bersandar sekarang hai sang fana !!
Sesosok wanita setengah baya yg masih tampak gagah dan
lincah hadir di hadapan. Sisa2 ketegaran masih terlihat walau wajahnya
tertunduk tanpa kata. Mata sembab itu nyaris mengalahkan warna sagaku. posisi
tubuh kecil dalam balutan kulit terpanggag mentari, melukiskan kisah hidup
penuh perjuang diri. Diam-diam dalam lirikan, aku mengagumi. Aura ketegaran
seorang ibu memancar tak bisa ku hindar. Menyusup memanggil naluri mengajak
duduk bersama berbagi rasa. Bagaimana jika beranak tak sesuai asa. Apakah harus
membuangnya atau melindungi sesuai kodrat diri ? Keduanya sama2 membuat luka.
Keduanya sama2 pertaruhkan makna, akan jati diri seorang wanita. Untuk apa ia
menjelma menjadi sosok ibu didunia.
Bersisian tepat dihadapan. Berambut lurus, berwajah tirus,
putih bersih berhias bibir tipis menawan. Sayang cahaya diraut itu nyaris
sirna, oleh goresan beban luka hidup yang ia terima. Ringkih tubuh langsingnya
seolah menggambarkan ada kepasrahan yang hadir tidak ditempatnya. Rasa benakku
ingin duduk bersama, mendengar cerita yg ia punya hingga puas lalu mengajak
berlogika menghadapi masalah. Agar tegas sikap pada batas benar dan salah,
walau itu buat belahan jiwa penegak penjaga rumah tangga.
Namun ternyata disisiku bukan mereka. Melainkan gadis belia
dengan tubuh sempurna dambaan pria. Rambut ikal itu sengaja berwarna berbeda
dari biasa, memberi kesan ia tak menyadari kecantikan alami yang dimiliki. Tangannya
menggenggam jari2ku sejak tadi. Diiringi diri yàng berguncang tak henti. Tangis
dan raungan kian lama kian sulit dikendalikan. Jika mengingat usia belianya,
kita akan lebih mudah memaklumi. Bahwa seolah nyawa hidup cintanya akan
ditentukan disini. Sebab apalagi yg lebih menyayat hati? Bagi para pecinta yg
sedang mabuk asmara? Konon itu akan diresmikan segera dan terancam gagal karena
sebuah peristiwa ?
Yah... kejadian minggu pagi ini, kabutnyà menyatukan kami, 4
wanita dalam air mata. Bersama duďuk berbagi rasa, dari sudut dàn versi yang
berbeda. Sayangnya 1x24 jam itu bukan pilihan karena ampunan dàn kata maaf tak
mengurangi pertanggungjawaban. Lalu aku mengakhiri tanpa janji, sambil membawa
beban jawaban dalam sajadah panjang tengah malam.
Ku dialog pada sang rohim, pelindung segala kesejatian.
Meminta ia jaga kekuatan niat dan prasangka, agar tak bergeser menjadi fitnah.
Sungguh Ia kreator ulung, dari segala rencana dàn pencapaian kita. Tak ada
apa2nya, kala yg ditetapkan sampai jua. Suka atau tidak, siap atau tidak, sadar
atau tidak akan tiba masa dimana kita cukup ikuti saja skenarioNya tanpa tanya.
Dan biarkan hikmah2 menjelma menjadi jawaban indah. Sebab janji kita dulu dan
pintaNya cuma satu , berserahlah !!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar