Kulit kuning langsatnya kini agak pekat. Sebab ia tlah nyaman berteman dengan mentari. Berjalan, berlari dan bermain dilapangan tak lagi risih. Tak begitu banyak kegaduhan terjadi sebab kontrol diri tlah ia miliki. Senyumnya mulai bermakna, dan tertuju jelas pada apa dan siapa. Walau kata yg terucap masih langka, ia sudah menoleh saat disapa.
Lama sudah ku tak bersua, hari ini adalah kesempatan kembali bersama. Berinteraksi ke taman BMKG kota. Ku menyapanya seperti dulu dalam ramah, semula kupikir ia lupa. Tapi ternyata tak ada rasa kaku mendampingi. Dengan luwes ia menanggapi segala ucapanku dengan reaksi tubuh. Merapat, mengikuti dan tersenyum selalu. seolah ada rindu tergurat dalam ungkapan bisu.
Amel sdh besar yaa.. wajah bayimu sudah berubah, kataku sambil mencoel pipinya. Mata bundar itu berbinar, perintah merapikan poni yg menjulur ke luar ia lakukan dgn benar menggunakan kedua tangan. Enngg... enggh... suara itu yg keluar sesekali sepanjang perjalanan. Kadang kepalanya memutar atau keningnya berkerut seolah mencoba menghafal jalan.
3 Tahun waktu diperlukan. Bagi anak spesial sepertinya mengalami perubahan. Mengontrol diri tak lari kesana sini tanpa tujuan. Bereaksi pada sikap orang disekitar. Juga faham maksud sesuatu dilakukan. Ia telah mandiri mengurus diri dan merapikan barang2nya tanpa bantuan. Semua ungkapan yg orang berikan dia bisa faham. Satu hal yang kami rindu... bibir mungil itu mengeluarkan suara dan berkata-kata. Sebab amel bukan bisu, ia sedang mengumpulkan kekuatan tuk melakukan itu. Dan kami semua menunggu dalam doa dan waktu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar