Selasa, 28 November 2017

Rindu Hujan 2

Kami letih mengadu pada pemimpin negeri. 
Dari level apapun ia berada kini. 
Kalaulah mereka bernyali, coba datang kemari, bawa anak dan istri lalu hiruplah udara ini.

Walau ada bimbang, sebab bencana datang tanpa diundang manakala umat meninggalkan ajaran dan teladan.
Dalam istisqo kamipun bersimpuh, menundukkan kepala ke tanah
Berbisik pada bumi tuk maafkan segala, perbuatan sebagian manusia yg semena-mena memperlakukannya.

Mengharap hanya pada Allah kiranya untaian doa itu mengangkasa menggetarkan langitNya. 
Lalu menurunkan hujan menyapu asap tebal yang lebih sebulan menyesakkan dada.

Allah... kami rindu hujan. 
Tapi sungguh hati malu menyaksikan 
Betapa kami tak benar-benar berikhtiar 
Pabrik2 kami masih mengumbar asap menambah kepekatan 
Rumah2 kami seperti kehilangan akal menangani sampah kering dihalaman lalu dengan semena2 kami bakar 
Kenderaan2 kami masih hilir mudik dikepadatan kota menambah polusi udara seperti biasa...

Lalu apa bedanya ? 
Kita semua memang berperan, dalam drama asap yang menghimpit dan menyesakkan 
Masihkah jari menunjuk perusahaan besar pembakar hutan, jika hal kecil saja masih sukar dihindar

Bumi... pantas saja kau tuli dari bisik maaf kami 
Karena kau tau kami sebenarnya tak peduli 
Langit... pantas saja kau tak tergetar 
Karena doa kami masih terhalang oleh kefasikan 

Allah... jika dahulu sahabat kekeringan, lalu mendatangi rasul dan meminta didoakan... 
Kini... pada siapa kami harus adukan ??


Semoga lirih taubat kami yang sendirian, dimalam sunyi dalam tahajud panjang akan Engkau dengarkan... 
Bahwa kami, hamba2 Mu tak akan berputus asa dari ampunan dan harapan... 
Bukankah doa tulus dengan Mu tak ada penghalang ? 
Maka izinkanlah rindu hujan itu hanya padaMu ku gantungkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar