Kami letih mengadu pada pemimpin negeri.
Dari level
apapun ia berada kini.
Kalaulah mereka bernyali, coba datang kemari, bawa anak
dan istri lalu hiruplah udara ini.
Walau ada bimbang, sebab bencana datang tanpa diundang
manakala umat meninggalkan ajaran dan teladan.
Dalam istisqo kamipun bersimpuh, menundukkan kepala ke
tanah
Berbisik pada bumi tuk maafkan segala, perbuatan sebagian manusia yg
semena-mena memperlakukannya.
Mengharap hanya pada Allah kiranya untaian doa itu
mengangkasa menggetarkan langitNya.
Lalu menurunkan hujan menyapu asap tebal
yang lebih sebulan menyesakkan dada.
Allah... kami rindu hujan.
Tapi sungguh hati malu
menyaksikan
Betapa kami tak benar-benar berikhtiar
Pabrik2 kami masih mengumbar
asap menambah kepekatan
Rumah2 kami seperti kehilangan akal menangani sampah
kering dihalaman lalu dengan semena2 kami bakar
Kenderaan2 kami masih hilir
mudik dikepadatan kota menambah polusi udara seperti biasa...
Lalu apa bedanya ?
Kita semua memang berperan, dalam
drama asap yang menghimpit dan menyesakkan
Masihkah jari menunjuk perusahaan
besar pembakar hutan, jika hal kecil saja masih sukar dihindar
Bumi... pantas saja kau tuli dari bisik maaf kami
Karena kau tau kami sebenarnya tak peduli
Langit... pantas saja kau tak
tergetar
Karena doa kami masih terhalang oleh kefasikan
Allah... jika dahulu
sahabat kekeringan, lalu mendatangi rasul dan meminta didoakan...
Kini... pada
siapa kami harus adukan ??
Semoga lirih taubat kami yang sendirian, dimalam sunyi
dalam tahajud panjang akan Engkau dengarkan...
Bahwa kami, hamba2 Mu tak akan
berputus asa dari ampunan dan harapan...
Bukankah doa tulus dengan Mu tak ada
penghalang ?
Maka izinkanlah rindu hujan itu hanya padaMu ku gantungkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar