Asap biasanya berlalu
Tak kan lama kala hadir
Mengikuti arah angin berkayuh
Tinggi ke angkasa lalu berakhir
Namun kini langit tempat kembali sudah tak sudi
Menjadi keranjang sampah polusi
Dengan berat hati awan kembali
Ke daratan
dimana ia dilahirkan
Jangan marah padaku hai manusia
Jika oksigen
menggandengku dalam nafasmu
Atau sangitku melekat pada tiap sudut rumahmu
Sungguh itu bukan mauku
Karena kaulah yang hadirkanku
Hadapi aku dengan akalmu
Maka sunnatullah kan berlaku
Tapi kendalimu ada dihati
Yang dalamnya tak bertepi
Bahkan hanya untuk solusi
Yang berulang kali kau temui
Tidak ada komentar:
Posting Komentar