#1
detik demi detik kan terasa saat diam, seolah melambat
memancing kesadaran. namun tidak ketika bergerak, energi seringkali membakar
rasa dan yang hadir cuma logika dari berbagai rencana. itulah langkah yang ku
bawa dipagi tanpa mentari. udara kelembabannya sirna akibat pelukan asap,
seolah tak cukup kehangatan, ketika manusia berkerumun berlomba memproduksi
keringat dengan alasan ingin sehat.
dilangkah ketiga bersisian dengan sibungsu, Allah takdirkan
waktu trhiller dihidupku. sekelebat bayangan menyapu bahu, membawa tas
selempang yang kusandang terbang keangkasa berpindah tangan. jasadku refleks
berputar berlari mengejar. dalam lolongan panjang yang masih sanggup
kuteriakkan. 'tolongg...... berikutnya entah apa sebutan persis bagi mereka
yang mengambil barang orang tanpa izin bahkan dengan paksaan. pencuri...
jambret... maling... dan sebagainya. otakku tak bisa mencerna kesingkronan
dengan kata yang melompat tak beraturan. kakinyataku terus berlari seolah
100meter itu begitu dekat. entah kekuatan mana menyanggah jantungku masih
berdegup biasa. sebab logika masih menyadarkanku untuk kembali menemui 4 bocah
yang kubawa. semua menyusul tertinggal, kujumpai mereka mencoba menenangkan.
diwarnai tangis sibungsu yang takut kehilangan. ku berpesan tuk tetap ditempat,
dimana bermula semua kejadian.
belum selesai pesanku, sebagian orang memberitahu bahwa
teriakanku berakibat fatal. sang pelaku tertangkap dikerumunan, kini nyawanya
sedang dipertaruhkan. sungguh mendengar itu, cuma tubuhku yang terbang.
sementara hatiku meregang mengawang mencari pegangan. pada kekuatan dimana ia
berasal. logika berfikirku berkata, jangan biarkan mereka !! ditengah kerumunan
massa yang begitu marah, tanpa risih dan sadar aku sudah berada ditengahnya.
berbaur dengan mereka yang nyaris lelaki semua. ku jumpai 2 sosok asing, yang
satu terkulai menghadap tanah dengan darah bersimbah dimana-mana dan satu lagi
duduk terunduk berantakan tak berupa. ya Allah.., apa rencanaMu. bisikku
sendiri bertanya.
tak sanggup mengurai kata bagaimana membaranya peristiwa
dalam skenario besar yang tak terduga. bahkan dalam mimpipun ku tak ingin
mengalaminya. tapi apa bisa ??untuk saat yang lama, aku tersadar menjadi bidak
dan yang melekat cuma titipan. ketika keinginan dan rencana2 hidupmu begitu
jadi penghias waktu. ketika pencapaianmu memesona mengaburkan pandangan yang
semestinya. ketika kau berfikir... ajal cuma lekat dinyawa bukan pada yang
lainnya. itulah mengapa lalaimu masih ada.
aku masih sanggup berjalan tegak seperti biasa. tak ada air
mata, juga amarah. bisik tanyaku belum terjawab, mungkin itu yang membekukan
rasa. pasrah... ikhlas... aku tak bisa lagi menerjemahkannya. pandangan manusia
berkata, banyak keajaiban disana. tak ada luka ditubuhku, padahal tak mudah
menarik tas selempang panjang tanpa rencana, dari tubuh yang bukan berbentuk
tiang lurus saja. kemungkinan terjebab, terseret atau terhentak adanya. lalu
aku yang biasa tak tahan melihat orang terluka berpeluh darah, kini berposisi
menjadi penjaga agar tak dihabisi amarah massa hingga petugas tiba. entah sosok
yang mana didiriku saat itu, aku belum mengenalinya. mungkin aku sedang
menjelma mencuri kekuatan tokoh fiksi yang kusukai. tapi itu pasti ulahnya Sang
Sutradara.
rol film ku masih berputar, berpindah lokasi ke sebuah
bangunan. dimana segala cerita kejahatan manusia tercatatkan. ku duduk dikursi
tamu dengan rasa hampa, mencoba menjawab semua dengan apa adanya. tatapanku
sesekali menghadap kedepan, pada 2tubuh yang mencoba bertahan dipojokan. tak
boleh bersandar, sebab saat laras kaki petugas menerjang akan menjadi hantaman yang
tak terperikan. 6 orang yang datang, ke 6 itu mengambil peran. kutegak dan
tegarkan posisi badan, kiranya itu berdampak belas kasihan. tapi sungguh, itu
tak berpengaruh. disini semua prajurit sudah terlatih tak mengenal kelembutan.
ketak te'gaan akan menjadi manipulasi bagi orang-orang yang buta keselamatan.
jadi kekerasan, kekejaman juga kete'gaan adalah sahabat mereka. itulah logika
sederhana yang kupakai memahami kondisi. tak ada kata terucap melihat
pembantaian kedua. jika merasa tak sanggup cukup kupejamkan saja mata. tak
berani berhenti melapazkan mantra asmaNya, dengan harapan aku merasa tak
sendirian.
didetik terakhir perjumpaan, ku beranikan diri mendekati
mereka dengan hati perempuan. sebongkah kalimat yang ingin kumuntah, hasil dari
cerna mata mengenal mereka selama 2 jam. "kau punya keluarga? keduanya
mengangguk lesu disisa tenaga. "apa yang ibumu sekarang rasakan?"
tatapanku pada yang lebih muda. "kau punya istri dan anak? alihku pada
yang lebih tua. "bagaimana kalau mereka tahu suami dan ayahnya
disini?" kalimat-kalimat itu meluncur dalam nada bergetar. menggoncangkan
kami semua diruangan dalam tangisan. padahal dari tadi luka yang mereka terima
tak mampu mengundang air matanya. padahal aku nyaris lupa, dimana hulu air
mataku. namun kesyahduan itu tak lama, buyar oleh sebuah teriakan meng
"cut" adegan. seolah betah melihat sosok tegar yang sejak tadi
kumiliki "alahhhh... kalau mereka mikir keluarga, mana mereka
lakukan." kata reserse itu sambil menepuk-nepuk tumpukan berkas ke kepala
ke2 nya secara bergantian.
pengenalan kita belum berakhir, bahkan baru dimulai. sebab
sebagai wanita aku akan terkoneksi. pada sosok-sosok yang mendampingi kedua
lelaki tadi. Allah.., jangan tinggalkan kami. sebab seorang perempuan memiliki
takdirnya sendiri, ketika rahim Allah titipkan maka rasa kasih menjadi makna
diri. walaupun itu berhadapan dengan marwah dan luka tak terperih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar