Selasa, 28 November 2017

lelaki kalian dan aku

#1

detik demi detik kan terasa saat diam, seolah melambat memancing kesadaran. namun tidak ketika bergerak, energi seringkali membakar rasa dan yang hadir cuma logika dari berbagai rencana. itulah langkah yang ku bawa dipagi tanpa mentari. udara kelembabannya sirna akibat pelukan asap, seolah tak cukup kehangatan, ketika manusia berkerumun berlomba memproduksi keringat dengan alasan ingin sehat.

dilangkah ketiga bersisian dengan sibungsu, Allah takdirkan waktu trhiller dihidupku. sekelebat bayangan menyapu bahu, membawa tas selempang yang kusandang terbang keangkasa berpindah tangan. jasadku refleks berputar berlari mengejar. dalam lolongan panjang yang masih sanggup kuteriakkan. 'tolongg...... berikutnya entah apa sebutan persis bagi mereka yang mengambil barang orang tanpa izin bahkan dengan paksaan. pencuri... jambret... maling... dan sebagainya. otakku tak bisa mencerna kesingkronan dengan kata yang melompat tak beraturan. kakinyataku terus berlari seolah 100meter itu begitu dekat. entah kekuatan mana menyanggah jantungku masih berdegup biasa. sebab logika masih menyadarkanku untuk kembali menemui 4 bocah yang kubawa. semua menyusul tertinggal, kujumpai mereka mencoba menenangkan. diwarnai tangis sibungsu yang takut kehilangan. ku berpesan tuk tetap ditempat, dimana bermula semua kejadian.

belum selesai pesanku, sebagian orang memberitahu bahwa teriakanku berakibat fatal. sang pelaku tertangkap dikerumunan, kini nyawanya sedang dipertaruhkan. sungguh mendengar itu, cuma tubuhku yang terbang. sementara hatiku meregang mengawang mencari pegangan. pada kekuatan dimana ia berasal. logika berfikirku berkata, jangan biarkan mereka !! ditengah kerumunan massa yang begitu marah, tanpa risih dan sadar aku sudah berada ditengahnya. berbaur dengan mereka yang nyaris lelaki semua. ku jumpai 2 sosok asing, yang satu terkulai menghadap tanah dengan darah bersimbah dimana-mana dan satu lagi duduk terunduk berantakan tak berupa. ya Allah.., apa rencanaMu. bisikku sendiri bertanya.

tak sanggup mengurai kata bagaimana membaranya peristiwa dalam skenario besar yang tak terduga. bahkan dalam mimpipun ku tak ingin mengalaminya. tapi apa bisa ??untuk saat yang lama, aku tersadar menjadi bidak dan yang melekat cuma titipan. ketika keinginan dan rencana2 hidupmu begitu jadi penghias waktu. ketika pencapaianmu memesona mengaburkan pandangan yang semestinya. ketika kau berfikir... ajal cuma lekat dinyawa bukan pada yang lainnya. itulah mengapa lalaimu masih ada.

aku masih sanggup berjalan tegak seperti biasa. tak ada air mata, juga amarah. bisik tanyaku belum terjawab, mungkin itu yang membekukan rasa. pasrah... ikhlas... aku tak bisa lagi menerjemahkannya. pandangan manusia berkata, banyak keajaiban disana. tak ada luka ditubuhku, padahal tak mudah menarik tas selempang panjang tanpa rencana, dari tubuh yang bukan berbentuk tiang lurus saja. kemungkinan terjebab, terseret atau terhentak adanya. lalu aku yang biasa tak tahan melihat orang terluka berpeluh darah, kini berposisi menjadi penjaga agar tak dihabisi amarah massa hingga petugas tiba. entah sosok yang mana didiriku saat itu, aku belum mengenalinya. mungkin aku sedang menjelma mencuri kekuatan tokoh fiksi yang kusukai. tapi itu pasti ulahnya Sang Sutradara.

rol film ku masih berputar, berpindah lokasi ke sebuah bangunan. dimana segala cerita kejahatan manusia tercatatkan. ku duduk dikursi tamu dengan rasa hampa, mencoba menjawab semua dengan apa adanya. tatapanku sesekali menghadap kedepan, pada 2tubuh yang mencoba bertahan dipojokan. tak boleh bersandar, sebab saat laras kaki petugas menerjang akan menjadi hantaman yang tak terperikan. 6 orang yang datang, ke 6 itu mengambil peran. kutegak dan tegarkan posisi badan, kiranya itu berdampak belas kasihan. tapi sungguh, itu tak berpengaruh. disini semua prajurit sudah terlatih tak mengenal kelembutan. ketak te'gaan akan menjadi manipulasi bagi orang-orang yang buta keselamatan. jadi kekerasan, kekejaman juga kete'gaan adalah sahabat mereka. itulah logika sederhana yang kupakai memahami kondisi. tak ada kata terucap melihat pembantaian kedua. jika merasa tak sanggup cukup kupejamkan saja mata. tak berani berhenti melapazkan mantra asmaNya, dengan harapan aku merasa tak sendirian.

didetik terakhir perjumpaan, ku beranikan diri mendekati mereka dengan hati perempuan. sebongkah kalimat yang ingin kumuntah, hasil dari cerna mata mengenal mereka selama 2 jam. "kau punya keluarga? keduanya mengangguk lesu disisa tenaga. "apa yang ibumu sekarang rasakan?" tatapanku pada yang lebih muda. "kau punya istri dan anak? alihku pada yang lebih tua. "bagaimana kalau mereka tahu suami dan ayahnya disini?" kalimat-kalimat itu meluncur dalam nada bergetar. menggoncangkan kami semua diruangan dalam tangisan. padahal dari tadi luka yang mereka terima tak mampu mengundang air matanya. padahal aku nyaris lupa, dimana hulu air mataku. namun kesyahduan itu tak lama, buyar oleh sebuah teriakan meng "cut" adegan. seolah betah melihat sosok tegar yang sejak tadi kumiliki "alahhhh... kalau mereka mikir keluarga, mana mereka lakukan." kata reserse itu sambil menepuk-nepuk tumpukan berkas ke kepala ke2 nya secara bergantian.


pengenalan kita belum berakhir, bahkan baru dimulai. sebab sebagai wanita aku akan terkoneksi. pada sosok-sosok yang mendampingi kedua lelaki tadi. Allah.., jangan tinggalkan kami. sebab seorang perempuan memiliki takdirnya sendiri, ketika rahim Allah titipkan maka rasa kasih menjadi makna diri. walaupun itu berhadapan dengan marwah dan luka tak terperih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar